Semangat Juang Vera dan Fitrah Taklukkan UTBK-SNBT
pusatstudiliterasi.unesa.ac.id., SURABAYA—Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Disabilitas pada Kamis 23 April 2026 bertempat di Training Center, lantai 4 Gedung Rektorat, Kampus 2 Lidah Wetan. di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menjadi saksi bisu kegigihan para peserta disabilitas netra dalam meraih impian mengenyam pendidikan tinggi.
Di antara para peserta yang berjuang, terdapat dua sosok inspiratif, yakni Veranica Imanuela Kalimo (Vera) dan Fitrah Dwi Alfiansyah, yang membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan sama sekali bukan penghalang untuk bersaing menembus perguruan tinggi negeri.
Kegigihan Vera: Siasat Berhitung Braille demi Kursi Ilmu Komunikasi
Veranica, peserta asal Sidoarjo datang dengan tekad bulat untuk lolos di UNESA. Menariknya, kecintaan Veranica pada dunia komunikasi dan literasi membuatnya memantapkan hati untuk memilih program studi S-1 Ilmu Komunikasi UNESA sebagai pelabuhan mimpinya. Pilihan ini disandingkannya dengan prodi S-1 Sastra Indonesia dan D4 Administrasi Negara, yang kesemuanya juga berada di UNESA.
Saat ditanya apa yang memotivasinya memilih Ilmu Komunikasi, Veranica menjawab dengan penuh antusias, “Saya suka menulis dan suka public speaking,”. Minat dan bakat komunikasinya yang kuat ini menjadi alasan utama mengapa prodi Ilkom UNESA menjadi tujuan ideal baginya untuk berkembang.
Untuk bisa menembus persaingan masuk prodi impiannya tersebut, siswi lulusan SMA Negeri 10 Surabaya ini telah melakukan persiapan yang sangat matang. Ia disiplin belajar dan fokus mengikuti tryout online selama 6 bulan terakhir. “Tiap hari (belajar) 3 jam. Saya mengerjakannya pakai laptop juga, ada screen reader-nya,” jelas Veranica membagikan rutinitas belajarnya.
Ia berhasil menyiasati tantangan terberatnya, yakni soal Penalaran Matematika. Ujiannya berjalan sangat lancar dan durasi waktu yang diberikan dirasa sangat pas baginya. Keberhasilan Vera menaklukkan soal matematika tak lepas dari kemampuannya memaksimalkan alat tulis Braille yang disediakan panitia, berupa reglet (grestilus) dan kertas buffalo (buvalet) untuk berhitung. Adaptasinya yang baik juga didukung oleh kebiasaannya belajar secara mandiri menggunakan laptop yang sudah dilengkapi fitur audio pembaca layar.
Mental Baja Fitra: Tetap Tenang Menghadapi Kendala Sistem Screen Reader
Di sisi lain, kisah ketegaran mental datang dari Fitrah, peserta dengan kondisi tunanetra total (full). Ujian Fitra tidak berjalan semulus Vera karena ia harus berhadapan dengan situasi menegangkan ketika perangkat lunak pembaca layar (screen reader) di komputernya sempat mengalami kendala teknis dan tidak berfungsi. Akibatnya, ada soal yang sempat tidak terbaca oleh sistem.
Meski dihadapkan pada situasi yang berpotensi memecah konsentrasi tersebut, Fitra tetap tenang dan mampu menyelesaikan ujiannya. Alih-alih mengeluh, Fitrah justru memberikan masukan yang sangat konstruktif, berharap sistem ujian ke depannya dapat diperbaiki lagi agar kendala serupa tidak terulang bagi peserta disabilitas lainnya.
Refleksi Semangat Juang: Hak Pendidikan untuk Semua Individu
Kisah Vera yang gigih berhitung menggunakan Braille di tengah kesibukannya bekerja, serta ketegaran Fitrah yang tak gentar menghadapi kendala teknis screen reader, memberikan pesan cerminan nyata bahwa dengan fasilitas yang inklusif dan semangat juang yang tak terpatahkan, setiap individu berhak dan mampu menggapai pendidikan setinggi-tingginya.
Reporter: Tarisa Adistia (Studi Independen)
Share It On: